Macam dan Arti di Balik Lisensi Open Source

Posted by Andika Saputra on 12 Februari 2017

Bagi seorang yang menggeluti dunia IT, khususnya pemrograman, pasti tahu tentang program yang open source. Sebuah program yang open source, berarti kode sumber atau source code dari program tersebut dibuka ke public. Sehingga semua orang bisa untuk melihatnya. Bahkan tidak hanya melihat, tapi juga diperbolehkan untuk memodifikasi sesuai kebutuhan hingga mendistribusikan ulang. Akan tetapi, untuk mendistribusikan ulang atau menggunakan source code tersebut, ada hal yang harus diperhatikan. Setiap program open source memiliki Lisensi yang harus diperhatikan ketika kita ingin menggunakan atau mendistribusikan ulang. Dan lisensi program open source sangatlah beragam. Apa macam dan arti lisensi open source?

Diagram Macam Lisensi Open Source

Dari gambar di atas dapat kita lihat, ada beberapa macam lisensi yang melekat pada sebuah program open source. Lantas apa maksud / arti dari macam-macam lisensi open source di atas? Mari kita bahas.

Macam / Jenis Lisensi Open Source

Berikut ini adalah beberapa macam lisensi open source yang sering digunakan.

1. Lisensi Public Domain

Lisensi jenis public domain ini, merupakan lisensi yang paling open. Dengan arti bahwa source program dimilki oleh publik, tidak dapat dimiliki oleh seseorang atau golongan. Semua isi di dalamnya boleh dimodifikasi dan didistribusikan ulang sebebas-bebasnya. Bagi yang memodifikasi ulang juga boleh memberikan lisensi baru pada hasil modifikasinya.

2. Lisensi MIT/X11

Sesuai namanya, Lisensi MIT ini dibuat / diperkenalkan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT). Lisensi MIT ini sangat simple dan sederhana. Kode program bebas mau diapakan, akan tetapi wajib menyertakan lisensi dan copyright dari program induknya pada kode program yang didistribusikan ulang. Namun ketika ada masalah dengan program yang terjadi, pendistribusi ulang tidak berhak menuntut pada pemilik awal kode.

3. Lisensi BSD

Lisensi BSD ini memiliki arti bahwa program yang memiliki lisensi ini bebas diapakan. Tapi asalkan menyertakan lisensi dan copyright si pembuat kode pada program turunannya.

4. GNU Lesser General Public License / LGPL

Lisensi LGPL pada versi 3.0 merupakan pengembangan dari lisensi BSD, dan lebih sering ditemukan di kode library. Pengguna boleh menggunakan untuk tujuan komersi, mendistribusikan ulang, memodifikasi, atau menggunakan secara pribadi tanpa harus mendistribusikan ulang. Dengan lisensi ini, apabila library dimodifikasi, maka library tersebut harus tetap menggunakan lisensi yang sama. Tapi untuk program yang menggunakan library tersebut, tidak harus menggunakan lisensi yang sama.

5. GNU General Public License / GPL

Saat ini sudah mencapai versi 3.0. Lisensi ini juga merupakan pengembangan dari lisensi LGPL v2. Lisensi ini sebenarnya sama dengan lisensi LGPL, tapi pengguna harus menyertakan kode sumber library dari yang dimodifikasi. Kemudian juga harus menyertakan perubahan apa saja yang dilakukan.

6. GNU Affero General Public License / AGPL

Lisensi AGPL sendiri merupakan pengembangan dari lisensi GPL v3, dan secara keseluruhan hampir sama. Hanya saja, di AGPL ini khusus untuk mengizinkan pengguna menggunakan progam yang didistribusikan secara online.

7. Mozilla Public License / MPL

MPL juga masih pengembangan dari BSD, dan tentu saja dibuat oleh Mozilla. Hampir sama dengan GPL, lisensi program harus tetap di bawah lisensi MPL. Akan tetapi yang spesial adalah penggunaan kode program boleh digabung dengan kode berlisensi proprietary. Kemudian hasil binnary dari program ini boleh berlisensi proprietary asalkan kode nya masih berlisensi MPL.

8. Apache 2.0

Dengan lisensi Apache ini, pengguna boleh menggunakan untuk komersi, atau pribadi tanpa harus mendistribusikan ulang. Pengguna juga boleh menggunakan lisensi yang berbeda dari lisensi program induknya. Tapi harus menyertakan perubahan apa saja yang dilakukan dalam program barunya. Pengguna harus menyertakan lisensi yang sama pada program yang didistribusikan, menyertakan lisensi, copyright program induk. Akan tetapi tidak boleh menyertakan trademark, logo, atau mengatasnamakan pembuat program induk pada program distribusi. Pengguna juga tidak berhak menuntut pembuat program induk jika terjadi masalah pada program distribusinya.

Kesimpulan

Nah, itulah tadi beberapa lisensi open source yang banyak digunakan. Namun masih ada beberapa jenis lisensi open source seperti Ms-PL dari Microsoft.

Pada dasarnya, open source memiliki lisensi yang melekat pada kode programnya yang sebaiknya ditaati. Mulailah menghargai karya orang lain, agar karya kita kelak juga dihargai.