Efektifkah Ujian Tertulis Bahasa Pemrograman?

Posted by Andika Saputra on 10 Februari 2017

Bagi kamu yang pernah menempuh pendidikan dunia komputer baik itu di perguruan tinggi atau pun smk, hampir bisa dipastikan pernah mengikuti ujian tertulis tentang pemrograman. Tapi apakah efektif melakukan ujian bahasa pemrograman secara tertulis? menulis coding program dalam kertas? Bisa dibilang hal itu memang konyol.

Kalau menguji algoritma dalam pembuatan program dengan pseudo code, tentu itu tak masalah. Tapi kalau yang diujikan adalah dengan menggunakan salah satu bahasa pemrograman, malah akan terlihat lucu. Karena sesungguhnya pemrograman membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Karena salah satu karakter saja bisa menyebabkan error yang sangat menyebalkan. Maka dari itu banyak kode editor atau Integrated Development Environment (IDE) membekali dengan linter dan autocomplete. Nah, itulah kenapa ujian tertulis sangat tidak cocok untuk mata kuliah / pelajaran bahasa pemrograman.

Dengan menggunakan linter, kita akan dengan mudah mengetahui mana syntax yang tidak sesuai dengan bahasa yang digunakan, seperti misalkan kurang titik koma (;). Dan dengan autocomplete akan lebih mudah dalam menulis kode program, seperti ketika membuka kurung kurawal, otomatis akan menutup dengan sendirinya. Atau dengan mengetikan “sout” pada IDE netbean kemudian tekan tab, otomatis akan menjadi System.out.println tanpa kesalahan.

Programmer proffessional sekali pun, pasti akan melihat dokumentasi ketika membuat sebuah program. Dan tak jarang menemukan masalah-masalah kecil yang terkadang sulit dipecahkan sendiri. Hingga akhirnya bertanya pada forum-forum komunitas pemrograman jika memang sudah mentok dengan permasalahannya.

Untuk instansi pendidikan yang mengajarkan tentang pemrograman, sebaiknya untuk menghapus ujian tertulis pemrograman, dan digantikan dengan ujian praktik yang memang lebih manusiawi bagi seorang programmer. Atau bisa juga untuk mata kuliah / pelajaran pemrograman mengganti sistem ujian dengan final project (karya) yang disertai laporan dan dokumentasi. Karena mau tidak mau di dunia pekerjaan pemrograman dokumentasi program wajib dibuat. Karena user yang menjadi client belum tentu bisa mengoperasikan program yang dibuat, karena memang belum mengenal program itu.